Sabtu, 01 Mei 2021

Gubuk Cinta, Tradisi Perempuan Suku Kreung Kamboja Mencari Seorang Pacar

 



NEGARATOTO - Di zaman yang sudah maju dan modern seperti sekarang ini ternyata seks bebas di kalangan suku pedalaman masih kerap terjadi, bahkan hal ini dikemas dalam sebuah tradisi. Seperti terjadi oleh para gadis Suku Kreung, di Kamboja dalam memilih pasangan mereka.



Dalam memilih pasangan untuk sang anak, para ayah Suku Kreung akan membangun sebuah gubuk cinta atau love hut sebagai tempat tinggal baru anak perempuannya. Pondok cinta atau love hut menjadi fasilitas yang diberikan orang tua kepada anak perempuan yang telah berusia 15 tahun atau telah mengalami menstruasi.

Pondok cinta bagi anak gadis Suku Kreung dibangun tak jauh dari rumah menggunakan bambu. Pondok cinta tersebut akan menjadi tempat tinggal sampai para gadis menemukan tambatan hatinya.




Tujuan dibangunnya pondok cinta adalah untuk memberikan anak-anak gadis Suku Kreung privasi dan ruang bersosialisasi dengan lawan jenisnya. Pondok cinta dimaksudkan juga untuk memberikan anak gadis Suku Kreung ruang untuk bereksperimen seksual dengan lawan jenis, sembari mencari 'jodoh'.

Bagi pria yang masuk ke dalam gubuk tersebut, mereka akan diberi waktu untuk menghabiskan malam bersama sampai anak perempuannya menemukan cinta sejati. Dengan begitu, sang gadis bisa memutuskan akan menikah dengan siapa.

Mereka percaya, tradisi ini adalah cara terbaik agar sang anak menemukan suami terbaik mereka. Selain itu, tradisi ini bertujuan agar seorang remaja putri bisa belajar bertanggung jawab dan hati-hati dalam urusan berhubungan badan.

Bagi penduduk Suku Kreung, pondok cinta menjadi simbol tanggung jawab dan kemandirian para gadis untuk menentukan sendiri nasib pernikahan mereka di masa depan. Suku Kreung percaya dengan adanya pondok cinta, mereka bisa mendapatkan pria yang tepat.

Pondok cinta atau love hut bukan hanya menjadi tempat bersenggama semata. Semua tindakan yang terjadi di dalam pondok cinta antara laki-laki dan perempuan berdasarkan keputusan sang pemilik 'bilik cinta'.

Selain itu, keputusan 'status' hubungan dan apa yang akan mereka lakukan saat kencan juga harus ditentukan oleh perempuan. Apakah merek hanya sekadar bercengkrama atau berhubungan seksual.

Karena wilayah kekuasaan 'pondok cinta' milik sang gadis, mereka diizinkan mengundang siapa pun untuk datang ke gubuk yang mereka tinggali. Bahkan, para perempuan itu boleh memiliki lebih dari satu kekasih saja, selama masa periode seleksi mencari pasangan hidup.

Sebagai tamu, para pria tidak diperbolehkan agresif. Sebab, para pria Kreung telah diajarkan untuk memperlakukan para wanita dengan sopan dan terhormat. Jika mereka melanggar aturan ini, maka akan ada sanksi adat yang harus diterima.

Bagi Suku Kreung, kata 'perawan' atau 'pelacur' bukan menjadi hal yang dianggap penting. Karena dalam masyarakat Kreung, keperawanan perempuan bukan suatu hal yang penting. Yang terpenting adalah menemukan orang tepat untuk dijadikan teman hidup hingga membentuk keluarga.

Meski cara tradisional ini dianggap bertentangan dengan adat timur yang dilakukan masyarakat Indonesia, ada hal positif dari cara ini. Kabarnya, dalam Suku Kreung tidak pernah terjadi kekerasan seksual, seperti pemerkosaan ataupun perceraian.

Seks bebas seperti yang dilakukan suku Kreung pastinya memiliki potensi terjadi kehamilan di luar nikah. Namun, para pria suku tersebut tidak mempermasalahkan kehamilan atau anak yang dikandung oleh sang gadis.
Misalnya saja, seorang gadis hamil dari pacar pertamanya, tapi mereka memutuskan untuk berpisah karena alasan ketidakcocokan. Wanita itu akan diizinkan menikah dengan pria lain. Pria tersebut akan tetap mengurus anak yang dikandung si gadis seperti anaknya sendiri, tanpa mempermasalahkan siapa ayah biologis anak itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PROMO NOMOR REKENING


PROMO MEMBERSHIP (LOYALTY POINT)